Feeds:
Tulisan
Komentar

Iman memiliki simbol dan kesejatian. Simbol adalah perilaku yang tampak, sedangkan kesejatian adalah hakikat keimanan yang tidak nampak. Meski tidak nampak, kesejatian akan terbukti dari konsistensi amal yang tampak secara lahiriah dan pancaran simbol yang melekat secara tetap. Sebagai contoh, jika seorang muslimah benar dalam keimanannya, maka ia akan mengenakan jilbab secara konsisten karena Allah bukan karena pertimbangan yang lain.

Dalam hadits dikatakan bahwa iman itu memiliki 73 cabang, yang tertinggi adalah mengucapkan ‘Laa ilaaha illa Allah’ dan yang terendah adalah menyingkirkan duri di jalanan. Cabang atau simbol itu harus serasi, mencerminkan sebuah keimanan yang sejati di dalam hati. Oleh karenanya parameter kesejatian itu tidaklah sederhana. Ia harus terbukti secara konsisten dalam pengamalannya dan serasi dengan simbol-simbol iman lainnya.

Simbol ‘jilbab’ harus serasi dengan simbol ‘berkata yang jujur’, harus serasi dengan simbol ‘menghormati tetangga’, shalat, penuaian zakat/sedekah, puasa, dan simbol-simbol iman lainnya. Keserasian antar simbol itu mencerminkan iman yang utuh dan ketidakserasiannya mencerminkan iman yang terpecah.

Waallahua’lam bishshawaab (rizqon_ak@eramuslim.com)

anhedoria

kadang aku merasa tak bisa lagi merasa senang, nikmatnya hidup ini,

aku merasa hampa

The Mask vs Muka 12

pernah menonton film “Me, Myself and Irene” dengan bintang utamanya bintang kocak yang main dalam “The Mask” dan “Ace ventura: the Pet Detective”.  Dalam cerita itu dia (bintang utamanya) digambarkan sebagai orang yang berkepribadian ganda.  Satu sisi orang baik dan di sisi lain sebagai orang jahat, seperti kisah Dr Hyde and Mr Jackill.  Mungkin kita tidak seekstrem itu dalam kehidupan ini, tapi bila kita melihat film “The Mask” maka mungkin itu menggambarkan kondisi kita lebih “realistis”. Dimana letak realistisnya? kalau kita menemukan topen terus menjadi orang hebat atau pahlawan super – jelas itu hanyalah dunia khayal, tetapi yang ingin saya tekankan di sini adalah perilaku kita sesunggunguhnya mirip dengan tokoh utama film tersebut: tampak seperti orang baik, sering kesal dan menggerutu ke orang lain (dan ini terbawa ke alam bawah sadar si tokoh hingga “topeng” tersebut dapat “mewujudkannnya”), dan menunggu saat yang tepat untuk membalas dendam, banyak keinginan.  Setidaknya 4 hal tersebut diatas dapat mewakili tokoh tersebut dan kita.  Bukan hal yang mudah hidup dengan topeng-topeng kepalsuan, tapi kalau mau “survive’ tampaknya sebagian orang melakukan hal tersebut, asal jangan merugikan  orang lain (untuk tujuan penipuan atau korupsi).  Beberapa tahun yang lalu saya telah mengungkapkan hipotesis tentang “topeng wajah kita” tapi banyak yang tak sependapat, karena ungkapan itu identik dengan istilah munafik, tapi begitulah adanya kita sehari-hari.

Topeng wajah tidak selamanya merugikan tak sedikit topeng tersebut membahagiakan orang lain (walaupun mungkin kita sendiri tak bahagia?).  Memberikan senyum dengan tulus walaupun hati tak setulus wajah.

Tapi sayangnya ada juga orang yang memiliki banyak sekali topeng wajah sehingga dijuluki sebagai orang yang “bermuka 12″.  Bukan seperti Dasamuka – musuhnya Rama, perlambang segala nista- yang bermuka sepuluh (dasa = sepuluh, muka = wajah), orang yang bermuka 12 ini jelas lebih berbahaya dari pada Dasamuka karena ia memiliki wajah atau muka lebih banyak.  Tampak baik didepan seseorang, tetapi menikam dibaliknya.  Nah, dalam kategori saya muka dua belas inilah yang termasuk munafik (walau secara bahasa aslinya tidak seperti itu artinya).  Orang seperti ini akan mendapatkan keuntungan dalam kekacauan, atau minimal mencari keuntungan pribadi, walaupun bagi yang belum canggih benar ilmunya, dia akan ketahuan dalam waktu yang tak terlalu lama.

Terus terang kita semua tak mau memiliki teman atau sahabat seperti muka 12 ini, karena hidup kita sesungguhnya “terancam” oleh keberadaannya disisi kita.  Begitu pun orang lain tak mau bila kita yang menjadi sahabatnya, ternyata memiliki muka 11 buah lebih banyak dari yang seharusnya.  Ada satu pesan penting yang diberikan seorang teman ke pada ku: Jangan menyakit jika tak ingin disakiti, walaupun kita tak bisa jamin bahwa bila kita tak menyakiti seseorang maka orang tersebut tak akan menyakit kita juga, who knows?

negeri minyak (bag. 1)

tak usah diherankan lagi, tanah air kita, Indonesia , telah dikenal sebagai negeri yang kaya raya sejak zamannya VOC dulu hingga zaman kini ketika SBY-JK memerintah.  Salah satu kekayaan itu adalah minyak bumi.  Minyak bumi ini tersebar di beberapa daerah dari Sabang sampai Merauke.  bahkan pernah kita temui liputan di televisi tentang suatu daerah di sumatera selatan yaitu daerah mandi angin (kalau saya tak salah).  di daerah tersebut banyak sekali terdapat sumur sumur tua peninggalan kolonial, dan sumur-sumur tua tersebut masih ditambang oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan BBM (bahan bakar minyak bukan baru bisa mimpi) sehari-hari maupun dijual kepada khalayak pengguna kendaraan bermotor yang bahan bakarnya adalah BBM (entah itu bensin maupun solar), memang kualitas BBM tidak standar karena belum menetapkan standar mutu apalagi standar seperti ISO 9000 dan sebagainya dan sebagainya.  Standarnya hanyalah “matameter” dangan menggunakan metode “kira(o)logi” untuk mendapatkan berbagai jenis bahan bakar hasil penyulingan sederhana tersebut.  Masyarakat di desa mandi angin tersebut, pada saat ini mendapat berkah kenaikan harga BBM dunia akibat negara arab tak mau meningkatkan pasokannya dan para spekulan di amerika serikat yang menumpuk minyak mentah dunia kata berita dunia.  Paling tidak mereka tidak perlu bingung mencari atau membeli minyak dan bahkan mereka mendapat nilai lebih dari harga minyak yang melambung ini.

Sayangnya hal ini tak terjadi pada pemerintah, kenaikan harga minyak dunia malah meningkatkan beban subsidi BBM.  Suatu yang ironi, Indonesia anggota negara OPEC (Organisation of Petroleum Export Countries kalau gue gak salah begitu kepanjangannya) ternyata adalah negara peng-import minyak?  Mestinya Indonesia keluar dari OPEC dan masuk ke OPIC.

memang minyak melimpah tetapi sebagian operator pengeboran adalah pihak asing sehingga keuntungan tetap di pihak asing (lagi?).  Seharusnya dengan logika sederhana bila kita benar anggota OPEC maka kita mendapatkan sejumlah keuntungan dari kenaikan harga BBM ini.  (bukti bahwa kita memiliki sumber BBM dan gas berlimpah dapat anda lihat di porong sidoarjo, dimana gasnya keluar tanpa dibor sayngnya tak bisa diapa-apakan?!)

Usia 62 tahun (bag 1)

Indonesia adalah salah satu negeri yang kaya akan kekayaan alam, negeri yang sangat indah permai. Bahkan Indonesia dijuluki sebagai zamrud katulistiwa “pada masa itu”. Dengan kekayaan alam Indonesia-lah Wangsa Orange dari Hollandia melalui VOC mengeruk kekayaan Bangsa Indonesia, yang waktu itu berupa rempah-rempah, padahal pada saat yang bersamaan negara Hollandia tersebut sedang dijajah oleh negara tetangganya (Spanyol, Perancis). Hollandia mampu membangun negeri yang cantik dan indah berkat “harta rampasan” dari negeri kita yang tecinta ini.

Sudah 62 tahun Indonesia merdeka dari segala penjajahan secara fisik. Enam puluh dua tahun bukan merupakan usia yang pendek bagi seorang manusia, jika kita bandingkan usia negara ini dengan usia manusianya. Pada usia ini seseorang yang telah bekerja keras sejak usia muda akan tinggal menikmati hasil keringatnya tersebut. Bersenda gurau dengan istri tercinta di kebun belakang rumah dengan dikelilingi cucu-cucunya yang bermain dengan riangnya. Ia telah menelorkan anak-anak yang mandiri serta mapan. Ia lebih mengutamakan kegiatan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Lebih banyak melakukan aktivitas sosial dan mempersiapkan masa pensiunnya (jika seorang guru atau dosen). Sungguh suatu cerita yang indah.

Berbeda dengan kisah di atas, usia 62 tahun negeriku yang kucintai ini masih penuh dengan bopeng-bopeng luka, masih belajar berjalan, masih belajar bicara dengan beradab, masih harus berusaha menjadi orang jujur dan ikhlas.

Di usia 62 tahun ini, masih banyak tikus-tikus, bahkan tambah banyak pasca reformasi 10 tahun yang lalu, yang tak segan dan malu lagi untuk berbuat korupsi dan kotor. tak malu untuk minta “uang jasa” atau uang apalah sehingga membikin biaya atau harga jual menjadi naik. Tak malu memakan “aspal, Batu, besi, perban, kasa dll”.

sungguh ironi di negeri yang katanya memilik umat muslim terbesar (suatu agama yang mengajarkan kejujuran, amanah, integritas pribadi (harga diri) dan saling mengingatkan dalam kebenaran dan menghindari kejahatan).  Umat yang taat hanya didalam rumah Tuhannya, diluar bukan urusan Tuhan.  Umat yang pandai memutar balik ayat untuk kepentingan pribadi/golongan (saat mencalonkan diri menjadi pemimpin minta dukungan ulama dan seterusnya dan seterusnya)

aku

webblog ini adalah bagian dari pencarianku terhadap artinya dunia dan segala isinya.  hatiku dingin seperti salju dalam wabblogku ini walau akupun bisa hangat hm…he..he.,

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!