Iman memiliki simbol dan kesejatian. Simbol adalah perilaku yang tampak, sedangkan kesejatian adalah hakikat keimanan yang tidak nampak. Meski tidak nampak, kesejatian akan terbukti dari konsistensi amal yang tampak secara lahiriah dan pancaran simbol yang melekat secara tetap. Sebagai contoh, jika seorang muslimah benar dalam keimanannya, maka ia akan mengenakan jilbab secara konsisten karena Allah bukan karena pertimbangan yang lain.
Dalam hadits dikatakan bahwa iman itu memiliki 73 cabang, yang tertinggi adalah mengucapkan ‘Laa ilaaha illa Allah’ dan yang terendah adalah menyingkirkan duri di jalanan. Cabang atau simbol itu harus serasi, mencerminkan sebuah keimanan yang sejati di dalam hati. Oleh karenanya parameter kesejatian itu tidaklah sederhana. Ia harus terbukti secara konsisten dalam pengamalannya dan serasi dengan simbol-simbol iman lainnya.
Simbol ‘jilbab’ harus serasi dengan simbol ‘berkata yang jujur’, harus serasi dengan simbol ‘menghormati tetangga’, shalat, penuaian zakat/sedekah, puasa, dan simbol-simbol iman lainnya. Keserasian antar simbol itu mencerminkan iman yang utuh dan ketidakserasiannya mencerminkan iman yang terpecah.
Waallahua’lam bishshawaab (rizqon_ak@eramuslim.com)